Dari :
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Bismillahirahmanirahim..
“Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri. Tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi menggelorakan.” (Buya Hamka)
“Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang sholeh dan cobaan bagi ahli ibadah.” (Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah)
Dulu di kota kufah tumbuhlah seorang pemuda zuhud ahli ibadah. Disamping itu tampan dan rupawan. Suatu ketika ia singgah di sebuah perkampungan yang banyak dihuni kaum An-Nakha’. Sepulang berdzikir dari masjid, pemuda tersebut keluar dan melangkahkan kaki pulang. Selang beberapa langkah meninggalkan mesjid, matanya beradu pandang dengan perempuan berhijab cantik jelita.
Mata bertemu mata, namun lisan tak berani berkata. Hanya tatap menatap, tak mengucap. Tak ada suara, yang ada adalah getar jiwa yang meminta mereka menundukan pandangan. Iya, pandangan mereka kini saling menunduk. Langkah mereka semakin menjauhkan raga. Tapi jiwa mereka tengah bersalaman dan berbincang. Bukankah di dunia ini hanya bahasa jiwalah yang paling jujur mengungkap rasa? Tulus apa adanya tanpa ada terselip dusta.
Bahasa jiwa itulah yang mengikat tali cinta, hingga tersambung erat, kuat membuhul. Hanya dari sebuah pandangan perasaan bisa terjatuh dan tergila-gila. Walau sejenak, namun bagai anak panah melesat dari busur dan bermuara pada jiwa. Beruntunglah, karena cinta tak mengepak sebelah sayap. Baik dari si pemuda maupun si gadis, tengah menumbuh benih-benih cinta. Menanti kasih yang ada di alam khayal, menjelma menjadi sayang di alam nyata.
Si pemuda sadar bahwa cinta sedang memuji imannya. Maka agar cintanya kepada makhluk tidak tertunduk liar, agar selalu dalam kebaikan dan keabadian. Agar cintanya berada dalam bingkai keimanan. Akhirnya si pemuda memutuskan untuk melangkahkan jiwa dan raganya untuk meminang gadis pujaannya.
Siapa yang akan menolak pemuda ahli ibadah, diiringi ketampanan dan kekayaan? Bukankah Rosul sangat tegas berpesan,
“Jika ada orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya datang meminang putri kalian, maka nikahkanlah ia, jika kalian tidak melakukannya maka fitnah di bumu dan kerusakan besar akan terjadi”
Perkataan Rosul tersebut sangat dimaknai oleh ayah sang gadis. Namun apa mau dikata, bahwa putri satu-satunya itu telah ditunangkan dengan putra kenalannya. Walupun berat harus mengatakan, namun itulah kebenaran.
Pupus sudah harapan si pemuda untuk mengikat cinta bersama gadis pujaannya. Hancur sudah membangun surga sebelum surga yang sebenarnya dengan gadis pilihan dalam keutuhan syariat. Memadu cinta untuk mencintai sang pemilik cinta dalam mahligai rumah tangga. Takdir memang kadang kala tak cukup bermurah hati untuk menyatukan dua hati yang tengah dibalut kasih dan cinta.
Sebagai seorang pemuda yang taat, dia sadar bahwa “anugerah”terindah yang ALLAH berikan tersebut tidak semestinya dirusak. Tidak perlu mencari jalan lain, tidak ada jalan belakang, samping kiri maupun kanan. Asmaranya harus diakhiri. Cukuplah ALLAH sebagai muara akhir seluruh cintanya. Tak perlu melepas baju kemanusiaan dan melabrak tabu. Tak perlu memaksa memetik bunga, karena ia akan layu dan akhirnya mati.
“Backstreet” adalah jalan hina sehina-hinanya. Menimbulkan sesal yang tak mampu mengubah keadaan. Menimbulkan fitnah, merusakraga dan membinaasakan jiwa.
Namun diujung jiwa nan jauh disana. Si gadis jelita masih menyimpan cinta yang menggelora. Dia berpikir bahwa masih ada celah untuk diikhtiarkan. Maka diapun menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya melalui seorang pembantunya.