Filosofi Grik yang pertama tidak lahir di tanah airnya sendiri. melainkan di tanah perantauan Asia Minor. negeri Grik di semenanjung Balkan tidak begitu subur tanahnya. Tanahnya tanah pegunungan. Sepanjang daratan dilalui oleh bukit barisan. Teluk yang banyak jadi perhiasan pantainya, jauh pula menjorok ke dalam negeri. Oleh karena itu tidak seberapa luas tanah tempat tinggal kediaman orang. Segala tempat kediaman itupun terpisah-pisah pula. Sebeb itu banyak rakyat Grik yang terpaksa merantau ke Tanah Asing dan mendirikan negeri baru disana. Berangsur-angsur mereka menduduki pulau-pulau yang berdekatan. dalam laut Egia, dan mendiami daratan di pantai Asia Minor. Rakyat Grik dahulu kala jadi tukang perantau karena keadaan negerinya.
Mereka yang merantau itu makmur hidupnya. Mereka hidup dari perniagaan dan pelayaran. Kemakmuran itu memberi kelonggaran bagi mereka untuk mengerjakan yang lain-lain selain daripada mencaari penghidupan.Waktu yang terluang dipergunakannya untuk memperkuat kemuliaan hidup dengan seni dan buah pikiran.
itulah sebabnya, maka literatur dan filosofi Yunani yang mula-mula lahir di daerah perantauan itu. yang sangat kesohor dan makmur di waktu itu adalah kota Miletos di Asia Minor. Puncak kemakmurannya terdapat di abad yang ke-enam sebelum Isa. Disanalah pula tempat kediaman filosof-filosof Grik yang pertama sebagai Thales, Anaximandros, dan Anaximenes. Mereka disebut filosofi Alam. Sebab tujuan filosofi mereka ialah memikirkan tentang Alam Yang Besar. Darimana terjadinya alam, itulah yang menjadi soal bagi mereka.
Supernatural TV Series adalah Film bergenre horor. Serial ini muncul pertama kali pada tanggal 13 September 2005 di The WB, dan kini merupakan bagian dari The CW. Sesi kedua muncul pada 28 September 2006, ketiga pada 4 Oktober 2007, dan keempat pada 18 September 2008.[1]
Cerita ini berkisah mengenai dua bersaudara Dean dan Sam Winchester yang mengelilingi dunia untuk menolong orang lain yang mempunyai masalah supranatural.
Pembuat : Eric Kripke
Pemain Utama : Jared Padelecki dan Jensen Ackles
Produser : Eric Kripke, Robert Singer, Sera Gamble, Kim Manners, McG, David Nutter
Tayang : 13 September 2005 - sekarang
Diceritakan kakak adik yang berusaha menolong orang. Meski pada awalnya mereka ingin mencari ayah mereka. Jensen Ackles sebagai Dean Winchester dan Jared Padelecki sebagai Sam Winchester.
Wahrheiten wollen erkannt und festgestelld, eben bewahrheitet sein, die wahrheit selnst bedarf dessen nicht, sondern sie ist es, die allein bewaehrt, was orgen als wahr erkannt sein und gelten soll
Paul NATORP
(Individuum und Gemeinschaft)
Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan dan juga dibenarkan, kebenaran itu sendiri tidak perlu akan itu, karena ialah yang menunjukan apa yang diakui benar dan harus berlaku.
Ramalan bintang atau zodiak ini berasal dai tradisi kaum Pagan. kaum Pagan adalah pemuja bintang sebaggai Tuhan mereka. Kaum Pagan juga menganggap bintang yang hadir di langit setiap bulannya mempengaruhi nasib. Karena dipercaya menentukan nasib, 12 Dewa ini disembah. Tentu saja, agar mendapat keberuntungan dan kebahagiaan.
Kisah 12 Dewa ini diambil dari Mitologi Yunani
Menurut Pandangan Islam : Ahli Astronomi Islam Al Biruni adalah yang pertama kali memisahkan secara tegas antara Astronomi (ilmu pengetahuan) dengan Astrologi (zodiak). Ibnu Abbasmeriwayatkan Hadist yang berbunyi : "Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang mengambil ilmu dari bintang (astrologi), maka dia mengambil salah satu sihir." Dan sihir itu haram. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa mendatangi seorang peramal, kemudian ia membenarkan perkataan peramal tersebut. Maka tidak diterima amalnya 40 hari 40 malam."
Menurut WHO 2006 batasan usia remaja adalah 12 – 24 tahun. Sedangkan dari segiprogram pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Depkes adalah mereka yang berusia 10 – 19 tahun dan belum kawin. Menurut WHO remaja adalah :
a.Individu berkembang dari saat pertama kali dia menunjukan tanda – tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai pematangan seksualnya
b.Individu mengalami pengembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak – kanak menjadi dewasa.
2.Karakteristik remaja
Menurut Hurlock (1996 : 206) ciri – ciri remaja yaitu :
a.Masa remaja sebagai periode yang sangat penting
Kendatipun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting, namun kadar pentingnya berbeda – beda. Pada periode remaja, akibat langsung maupun akibat jangka panjang tetaplah penting, ada periode yang penting karena akibat fisik dan ada pula akibat psikologisnya. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada masa awal remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan pengaruh yang sangat besar untuk masa depannya.
b.Masa remaja sebagai metode peralihan
Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih – lebih sebuah peralihan dari suatu tahap perkembangan ke tahap berikutnya. Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang akan dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan merupakan orang dewasa. Status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena status memberikan waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup baru yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang sesuai bagi dirinya.
c.Masa remaja sebagai periode perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Ada 5 perubahan yang sama yang hampir bersifat universal, yaitu :
1)Meninggikan emosi
Perubahan emosi terjadi lebih cepat selama masa awal remaja, maka meningginya emosi lebih menonjol pada masa awal periode akhir – akhir masa remaja
2)Perubahan utuh
Di sini mulai tampak perbedaan antara pria dan wanita akibat perubahan fisik yang terjadi, misalremaja wanita mulai tumbuh payudara, mulai terlihat timbunan lemak di pinggulnya
3)Minat dan peran yang diharapkannya
Bagi remaja muda masalah baru yang timbul nampaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan masalah yang dihadapi sebelumnya. Remaja akan tetap merasa ditimbuni masalah sampai ia sendiri menyelesaikannya munurut kepuasannya
4)Perubahan nilai – nilai
Apa yang pada masa kanak – kanak dianggap penting sekarang setelah hampir dewasa dianggap tidak penting lagi. Sekaranga mereka mengerti bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas
5)Sikap ambivalan terhadap setiap perubahan
Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan tetapi mereka sering takut bertanggungjawab akan apa akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk mengatasi tanggung jawab tersebut.
d.Masa remaja sebagai usia bemasalah
Setiap periode mempunyai masalah sendiri – sendiri, namun masalah remaja sering jadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki – laki maupun perempuan karena tidak mampu mereka untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaianya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka
e.Masa remaja sebagai masa ingin tahu
Rasa ingin tahu ini lebih membahayakan, karena seringkali melibatkan beberapa hal yang tidak vital dan mendasar (seperti : apakah tuhan itu ada, bagaimana karakteristik remaja lain yaitu kebutuhan akan kemandirian yang mendorong kearah tindakan untuk membuktikan rasa keingintahuannya. Rasa ingin tahu dan kebutuhan akan kemandirian tersebut mendorong remaja kearah kematangan. Akan tetapi jika rasa ingin tahu ini tidak dijaga, dalambatasan tertentu yang tidak dapat dikuasainya akan membawanya kepada pengetahuan yang sebenarnya secara emosional belum siap diterima remaja. Oleh sebab itu, remaja membutuhkan bimbingan orang yang lebih dewasa dalam member batasan tentang sejauh mana ia boleh “mencoba” dan dampak (resiko dan manfaat) dari hassil “percobaan” tersebut
Pengetahuan (knowledge) adalah merupaka hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan (kognitif) merupakan domain yang sangat penting untuk tebentuknya tindakan seseorang (Taufik, 2007). Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
a.Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu
b.Inters, yakni orang mulai tertarik dengan stimulus
c.Evaluation (menimbang – nimbang baik atau tidak stimulus tersebut bagi dirinya)
d.Trial, orang mulai mencoba perilaku baru
e.Adoption, subjek telah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus
2.Tingkat pengetahuan
Dari teori BLUM yang dikutip dari Notoatmodjo (2005 ; 14), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan.
a.Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan ingkat ini adalah mengingat kembali. Oleh karena itu “tahu” adalah tingkat pengetauan yang paling rendah.
b.Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasimateri tersebut secara benar.
c.Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk materi yang telah dipelajari. Pada situasi suatu kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hokum – hokum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d.Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen – komponen tetapi masih didalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e.Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian – bagian didalam suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada.
f.Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atu objek. Penilaian – penilaian ini berdasrkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada.
DOTS (Directly Observed Treatment Short Course) adalah strategi penyembuhan TB jangka pendek dengan pengaasan secara langsung. Atatu dengan kata lain DOTS adalah pengobatan jangka pendek dengan pengawasan ketat oleh petugas kesehatan atau keluarga penderita. Dengan menggunakan strategi DOTS maka proses penyembuhan TB dapat secara cepat. DOTS menekankan pentinganya pengawasan terhadap penderita TB agar menelan obatnya secara teratur sesuai dengan ketentuan sampai dinyataka sembuh. Strategi DOTS telah tebukti dengan berbagai uji coba lapangan dengan memberikan angka kesembuahan tinggi. Bank dunia menyatakan strategi DOTS merupaka strategi kesehatan yang relative murah pembiayaanya (Aditama, 2002)
DOTS terdiri dari 5 komponen yang tidak dapat dipisahkan yaitu :
1)Komitmen politis, berupa dudkungan dana jajaran pemerintah/pengambilan keputusan terhadap penanggulangan TB atau dukungan dana operasional
2)Penemuan penderita dalam pemeriksaan dahak dengan mikroskopis langsung. Pemeriksaan penunjang lainnya seperti rontgen dan kultur dapat dilaksanakan pada unit pelayanan kesehatan yang memilikinya.
3)Pengadaan dan distribusi obat yang cukup dan tidak terputus. Tersedianya Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang cukup dan tidak putus bagi penderita
4)Pengawasan menelan obat. Untuk memastikan keteraturan penderita minum OAT, dibutuhkan seorang pengawas minum obat (PMO), khususnya pada 2 bulan pertama dimana penderita minum obat setiap hari
5)Sistim pencatatan dan pelaporan data – data perkembangan penyakit TB paru yang baku (Aditama, 2002)
Melalui system pencatatan dan pelaporan yang sama di seluruh unit pelayanan kesehatan akan memudahakan evaluasi. Dengan menggunakan keseragaman definisi kasus berdasarkan kategori penyakitnya, maka pencatatan penderita yang diikuti secara konkrit akan dapat dievaluasi secara berkala. Dalam jangka panjang tujuan program pengobatan pemberantasan TB di Indonesia adalah memutuskan mata rantai penularan, sehingga penyakit TB yang tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Dalam jangka pendek program ini bertujuan untuk memperluas sarana kesehatan secara bertahap hingga mencapai minimal 70% dari total penderita TB yang ada dapat dicatat dan menyembuhkan minimal 80% dari penderita yang ditemukan. Prinsip DOTS adalah mendekatkan pelayanan pengobatan terhadap penderita agar secara langsung dapat mengawasi keteraturan menelan obat dan melakukan pelacakan bila penderita tidak datang mengambil obat sesuai dengan yang ditentukan (Aditama, 2002)
b.Pengawas Menelan Obat (PMO)
Untuk menjamin kesembuhan dan mencegah resistensi serta keteraturan pencegahan dan drop out (lalai) dilakukan pengawasan dan DoTS melalui pengawasan langsung menelan obat oleh pengawas Menelan Obat (PMO). Bagi penderita TB yang rumahnya dekat dengan puskesmas dan unit pelayanan kesehatan lainnya maka PMOnya adalah petugas puskesmas sedangkan bagi yang rumahnya jauh, diperlukan PMO atas bantuan masyarakat, LSM, PPTI (Perkumpulan Pemberantasan TB Indonesia) dan PKK. Obat harus ditelan setiap ahi yang disaksikan PMO, jika tidak mungkin bagi penderita untuk datang setiap hari ke puskesmas maska petugas puskesmas harus merundingkannya dengan penderita bagaimana caranya agar obat terjamindi telan setiap hari. Sebelum obat pertama kali diberikan, penderita dan PMO harus diberi penyuluhan tentang : TB bukan penyakit keturunan atau kutukan, TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur, bagaimana tata laksana pengobatan penderita pada tahap awal dan tahap insentif, pentingnya berobat secara teratur, karena itu pengobatan perlu diawasi, efek samping obat dan tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi efek samping tersebut dan cara penularan dan mencegah penularan (Aditama, 2002)
Adapun yang menjadi persyaratan untuk jadi seorang PMO menurut Depkes (2005) adalah :
1)Dikenal, dipercaya dan disetujui oleh petugas kesehatan dan penderit, selain itu juga harus disegani dan di hormati oleh penderita
2)Dekat dengan tempat tinggal penderita
3)Bersedia membantu penderita dengan suka rela
4)Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama – sama penderita
Seorang PMO akan bertugas untuk mengawasi penderita agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan, member dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur, mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktu – waktu yang ditentukan dan memberikan penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB yang mempunyai gejala – gejala tersangka penderita TB untuk segera memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan (DepKes RI, 2005)
c.Pengobatan TB paru
Obat yang diberikan kepada penderita TB paru dengan BTA positif adalah OAT ( Obat Anti Tuberkulosis) yang telah deprogram pada tahun 1993/1994. Untuk pengamanan dalam pelaksanaan pengobatan panduan OAT dikemas dalam bentuk blister kemasan harian kombipak (paket kombinasi), dari kombipak I, kombipak II, untuk fase awal dan kombipak III untuk fase lanjutan, oleh karena itu sekali seseorang penderita memulai pengobatan ia harus menyelesaikannya dengan lengkap dan hingga sembuh (DepKes RI, 2002)
Obat anti tuberculosis yang digunakan dalam program pengobatan TB jangka pendekk adalah : Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Streptomisin (S) dan Ethambutol (E). oleh karena itu penggunaan Rifampisin dan Streptomisin untuk penyakit lain hendaknya daihindari untuk mencegah timbulnya resistensi kuman. Pengobatan penderita harus didahului oleh pemastian diagnosis. Melalui pemeriksaan laboratorium terhadap adanya BTA pada sampel sputum penderita dan pemeriksaan radiologi (DepKes, 2002)
Pemberian OAT juga harus sesuai dengan berat badan penderita, rata – rata berat badan penderita TB menurut pengalaman petugas kesehatan antara 33 – 50 kg sehingga kemasan dalam blister kombipak I, kombipak II, kombipak III, dan kombipak IV sangat sesuai, bagi penderita dengan berat badan lebih dari 50 kg perlu penambahan dosis. Pemberian pengobatan dengan kombipak sangat efektif dan praktis (DepKes RI, 2002)
Obat yang dipakai dalam program pemberantasan TB sesuai dengan rekomendasi WHO berupa panduan obat jangka pendek yang terdiri dari 3 kategori, setiap kategori terdiri dari 2 fase pemberian yaitu fase awal dan fase lanjutan/intermitten, yaitu pada kategori I (2HRZE/4H3R3), diberikan kepada penderita BTA positif dan penderita baru BTA negative tetapi rontgen positif dengan “sakit berat” dan penderita dengan paru ekstra berat. Diberikan 114 kali dosis harian berupa 60 kombipak II dan faselanjutan kombipak III dalam kemasan dos kecil. (DepKes RI, 2005)
Kategori II (2HRZES/HRZE/5H3R3E3), diberikan kepada penderita dengan BTA (+) yang pernah mengkonsumsi OAT sebelumnya selama lebih dari sebulan, dengan criteria : penderita kambuh (relaps) BTA (+) dan gagal pengobatan (failure) BTA (+) dan lain – lain dengan kasus masih BTA (+). Diberikan 156 dosis, fase awal sebanyak 90 kombipak II, fase lanjutan 66 kombipak IV, disertai streptomisin (DepKes RI, 2005). Kategori III (2HRZ/4H3R3), diberikan kepada penderita baru BTA (-)/ rontgen (+) dan penderita ekstra paru ringan. Pemberian dengan dosis 114 kali. Pada fase awal 60 kombipak I dan fase lanjutan 54 kombipak III. OAT sisipan (HRZE), diberikan pada pengobatan kategori I dan II yang pada fase awal masih BTA (+),untuk ini diberikan obat sisipan selama 1 bulan, dimakan setiap hari (DepKes RI, 2005)
Kategori kasus berdasarkan riwayat pengobatan :
1)Kasus baru : penderita yang belum pernah mendapat pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau pernah akan tapi kurang dari 1 bulan
2)Kambuh/ relaps : pernah dilaporkan sembuh, tetapi datang lagi dengan BTA (+)
3)Pindahan/ transfer in : telah terdapat dan mendapat pengobatan di tempat pengobatan lain, kini datang berobat serta mendaftarkan diri untuk melanjutakan pengobatan
4)Pengobatan setelah default/lalai : penderita yang datang setelah berhenti makan obat selama 2 bulan atau lebih
5)Gagal : penderita BTA (+) yang tetap memberikan BTA (+), walaupun setelah mendapat pengobatan fade awal (DepKes RI, 2005)
d.Hasil pengobatan dan tindak lanjut
Hasil pengobatan penderita dapat dikategorikan sebagai : sembuh, pengobatan lengkap, meninggal, pindah (transfer out), default (lalai)/DO dan gagal (DepKes RI, 2005). Kategori pertama, penderita dinyatakan sembuh apabila penderita telah menyelsaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan dahak ulang (follow up) paling sedikit 2 kali berturut – turut hasilnya negatif9yaitu pada AP dan atau sebelum AP, dan pada satu pemeriksaan follow up sebelumnya). Contoh penderita yang dinyatakan sembuh apabila hasil pengobatan ulang dahak negative pada akhir pengobatan (AP), pada sebulan sebelum AP dan akhir intensif. Penderita dengan hasil pemeriksaan dahak negative pada AP dan pada akhir intensif (pada penderita tanpa sisipan), meskipun pemeriksaan ulang dahak pada sebulan sebelum AP tidak diketahui hasilnya. Selanjutnya apabila hasil pemeriksaan dahak negative pada AP dan pada setelah sisipan (pada penderita yang mendapat sisipan) meskipun pemeriksaan ulang dahak pada sebulan sebelum AP tidak diketahui hasilnya, hasil pemeriksaan ulang dahak negative pada sebulan sebelum AP dan pada akhir intensif (pada penderita tanpa sisipan), meskipun pemeriksaan ulang dahak pada AP tidak diketahui hasilnya. Contoh berikutnya, bila hasil pemeriksaan ulang dahak negative pada sebulan sebelum AP dan pada setelah sisipan (pada penderita yang mendapat sisipan) meskipun pemeriksaan ulang dahak pada AP tidak diketahui hasilnya. Tindak lanjut : penderita diberi tahu apabila gejala muncul kembali supaya memeriksakan diri dengan mengikuti prosedur tetap (DepKes RI, 2002)
Kategori hasil pengobatan yang kedua, pengobatan lengkap adalah penderita yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tapi tidak ada hasil pemeriksaan ulang dahak dua kali berturut - turut negative. Tindak lanjut : penderita diberitahu apabila gejala muncul kembali dengan mengikuti prosedur tetap (DepKes, 2002)
Kategori selanjutnya penderita yang pada mas pengobatan diketahui meninggal karena sebab apapun (DepKes RI, 2002). Kategori keempat adalah penderita yang pindah berobat ke kabupaten/kota lain. Tindak lanjut : penderita yang ingin pindah dibuatkan surat pindah dan bersama sisa obat dikirim ke unit pelayanan yang baru (DepKes RI, 2002)
Kategori hasil pengobatan kelima, penderita yang tidak mengambil obat berturut – turut atau lebih sebelum masa pengobatan selesai. Tindak lanjut : lacak penderita tersebut dan berikan penyuluhan pentingnya berobat secara teratur. Apabila penderita melanjutkan pengobatan lakukan pemeriksaan dahak. Bila positif lakukan pengobatan dengan kategori dua, bila negative sisa pengobatan kategori satu dilanjutkan (DepKes RI, 2002)
Terakhir, penderita BTA positif yang hasil pemeriksaan dahaknya positif atau kembalimenjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan. Tindak lanjut : penderita BTA positif baru dengan kategori 1 diberikan kategori 2 mulai dari aal, penderita BTA positif pengobatan ulang dengankategori 2 dirujuk ke UPK spesialistik atau berikan INH seumur hidup. Penderita BTA negative yang hasil pemeriksaan dahaknya pada akhir bulan kedua menjadi positif. Tindak lanjut : berikan pengobatan kategori 2 dari awal (DepKes RI, 2002)